LAPORAN
Teknologi
Pengemasan dan Penyimpanan Bahan Pangan
Oleh
kelompok III
EKO ISRO RIYANTO D1C1 11 005
EMBANG DJOHAR D1C1 10 058
ABDARRIANZAH
B. HASAN D1C1 10 069
ASFIANTI D1C1 10
0
SUHARNI D1C1 10 0
Jurusan Teknologi Pangan
Fakultas Pertanian
Universitas Haluoleo
Kendari
2012
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pengemasan
disebut juga pembungkusan, pewadahan atau pengepakan, memegang peranan penting
dalam pengawetan bahan hasil pertanian. Adanya wadah atau pemungkus dapat
membantu mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi bahan pangan yang ada
didalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan,
benturan, getaran). Disamping itu pengemsan berfungs untuk menenpatkan suatu
hasil pengolahan atau produk industri agar mempunyai bentuk-bentuk yasng memudahkan
dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi. Dari segi promosi wadah atau
pembungkus berfungsi sebahgai peranhgsang atau daya tarik pembeli. Karena itu
bentuk, warna dan dekorasi dari kemasan perlu diperhatikan dalam
perencanaannya.
Sebelum
manusia membuat kemasan, alam sendiri telah menyajikan kemasan, seperti jangung
yang telah dibungkus seludang, buah-buahan terbungkus kulitnya, buah kelapa
yang terlndung baik dengan sabut dan temprung, polong-polongan terbungkus kulit
polong. Menurut catatan sejarah, pengemasan telah ada sejak 4000 SM. Pada waktu
itu peradaban manusia telah tinggi dengan disertai adanya pertukaran barang
niaga antara Mesir dan Mesopotamia, serta Cina dan India.
Kemasan adalah media atau wadah yang dipergunakan untuk
membungkus bahan hasil pertanian sebelum bahan tersebut disimpan dalam ruang
penyimpanan. Maksudnya adalah untuk mempermudah pengaturan, pengangkutan,
penempetan dari dan ke tempat penyimpanan, serta memberi perlindungan pada
bahan secara awal. Pada umumnya, kondisi bahan hasil pertganian akan terjaga
baik bila disimpan dalam keadaan dikemas. Namun, tidak semua hasil pertanian
akan member akibat yang sama jika disimpan dalam bentuk kemasan. Kemasan ini
hanya cocok diterapkan untuk komoditas pertanian berupa bahan yang telah
dikeringkan.
Semua bahan pangan mudah rusak. Dan
ini berarti bahwa setelah jangka waktu penyimpanan tertentu ada kemungkinan
untuk membedakan antara bahan pangan segar dengan bahan pangan yang telah
disimpan dalam jangka waktu tersebut diatas. Perubahan yang terjadi merupakan
suatu kerusakan. Meskipun demikian, sebagian bahan pangan menjadi matang atau
tua setelah dikemas dan memang ada perbaikan dalam waktu singkat dan kemudian
diikuti oleh kerusakan.
Pengemasan hasil pertanian sangat penting dilakukan guna penyediaan
produksi untuk keperluan pasar dan
distribusi untuk masing-masingnya diperlukan persyaratan khusus. Lama
penyimpanan, jenis komoditas dan model fasilitas penyimpanan untuk tiap-tiap
tingkat beragam menurut fungsi dan kebutuhannya.
Jauh sebelum manusia mengenal teknik budi daya dan cara
menyimpan hasil panen, organism hidup, terutama dari kelompok serangga
(insekta) telah dikenal sebagai pengganggu yang merugikan manusia. Namun, tidak
ada catatan yang lengkap mengenai tingkat gangguan yang dialami oleh manusia
pada jaman itu.
Ham (pest) menurut kamus oxford diartikan sebagai sesuatu
yang menyusahkan atau merusak manusia dan makhluk lain. Dalam bahasa prancis
hama disebut sebagai peste yang berarti wabah. Menurut konsep klasik, hama
mencakup semua organism hidup yang dapat menimbulkan kerusakan. Dalam
perkembangan selanjutnya, pengertian hama lebih dikhususkan pada hewan atau
binatang perusak, baik yang memiliki ukuran tubuh besar hingga yang berukuran
kecil. Jasad perusak yang berwujud tanaman dimasukkan dalam kelompok tanaman
pengganggu (gulma), sedangkan organism jasad renik, seperti cendawan, bakteri,
virus, dan amuba masuk ke dalam kelompom pathogen. Namun, tidak semua organism
tersebut dikategorikan sebagai organism perusak
Mengingat teknologi pengemasan dan
penyimpanan sangat penting bagi upaya ketahanan pangan nasional, maka perlu
diadakan praktikum untuk menguasai lebih jauh tentang teknik pengemasan bahan
pangan maupun produk pangan yuang sudah siap untuk dipasarkan.
B.
Tujuan
·
Mengenalkan
mahasiswa tentang teknik pengemasan produk pangan.
·
Melatih
mahasiswa agar lebih menguasai teknik,peralatan dalam pengemasan.
·
Mengenalkan
mahasiswa dengan alat-alat yabg digunakan untuk mengemas produk.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.Penyimpanan Komoditi
Hasil Pertanian
2.1 Penyimpanan Rempah-Rempah
Rempah-rempah adalah bagian tumbuhan yang
beraroma atau berasa kuat yang digunakan dalam jumlah kecil di makanan sebagai pengawet atau penambah rasa dalam masakan. Rempah-rempah biasanya dibedakan dengan tanaman lain yang
digunakan untuk tujuan yang mirip, seperti tanaman
obat, sayuran
beraroma, dan buah kering. Rempah atau “Spices”
sebagian besar tumbuh di daerah tropik dan banyak dimanfaatkan dalam pengolahan
makanan untuk memberi rasa pada makanan.Rempah dapat juga dikatakan sebagai
bumbu kering. (http://qym7882.blogspot.com/2009/03/bumbu-dan-rempah.html)
Bumbu atau “Herb” adalah tanaman aromatik yang
ditambahkan pada makanan sebagai penyedap dan pembangkit selera makan. Herb
sebagian besar terdiri dari tumbuh – tumbuhan yang berasal dari daerah dingin,
dan biasanya digunakan dalam keadaan masih segar. Pada hakikatnya bumbu dan rempah keduanya
memberi dan meningkatkan rasa dan aroma pada makanan, misalnya merica (spices).
(http://qym7882.blogspot.com/2009/03/bumbu-dan-rempah.html)
Teknologi
Enkapsulasi
Masih adanya kekurangan produk
rempah-rempah dalam bentuk minyak atsiri
maupun oleoresin mendorong para ahli mengolah lebih lanjut kedua produk
tersebut. Pengembangan lebih lanjut dari
oleoresin atau minyak atsiri diantaranya adalah dengan teknik enkapsulasi. Dalam teknik ini flavor
(misalnya minyak atsiri atau oleoresin)
diperangkap dalam suatu pelapis polimer, membentuk mikrokapsul bulat
dengan ukuran antara puluhan mikron
sampai beberapa milimeter. Isi atau flavor dalam mikrokapsul tersebut dapat dilepaskan dengan kecepatan
terkontrol pada kondisi tertentu.
Teknik-teknik mikroenkapsulasi yang
banyak digunakan secara komersial adalah
“spray drying”, “air suspension coating”, akstruksi, “sparay cooling and
spray chilling”, “centrifugal
axstrusion”, “rotational suspension separation” dan “ inclusion complexing”. “Spray drying”
atau pengering semprot merupakan teknik enkapsulasi yang banyak digunakan untuk minyak atsiri dan oleoresin
rempah-rempah.
Oleoresin atau minyak atsiri yang
dienkapsulasi sangat efektif digunakan dalam
makanan olahan, proses pengisian, pencampuran kering, permen, makanan
formula, bumbu-bumbuan, makanan penutup
(dessert), produk-produk susu dan lain-lain.
Keuntungan lainnya adalah flavor terlindung dari kehilangan (penguapan)
dalam masa penyimpanan yang lama; mudah
dituangkan, mudah ditimbang, ditangani dan
dicampurkan; bebas dari enzim tannin, mikroba dan serangga; mudah
digunakan dalam pencampuran bahan-bahan
kering; bebas dari garam-garam, dekstrosa dan pengisi yang lain, kecuali pati atau gum yang digunakan
sebagai bahan pelapis; bersifat non
higroskopis dengan stabilitas dalam penyimpanan yang baik; serta dapat
menghasilkan produk dengan kualitas flavor yang terstandarisasi.
Dalam proses enkapsulasi dengan
pengering semprot, flavor atau cita rasa bahan
pangan, misalnya yang berbentuk oleoresin atau minyak atsiri
rempah-rempah, dicampur merata (sehingga
membentuk emulsi) dengan pati (lebih baik dengan pati termodifikasi, yaitu pati yang telah diubah sifat
fungsionalnya) atau gum yang dapat larut seperti gum akasia. Selanjutnya dikeringkan dengan
pengering semprot (spray dryer) dengan kondisi
suhu dan kelembaban yang diatur. Pati atau gum yang digunakan harus
bersifat “food grade” jika produk
enkapsulasi tersebut akan digunakan untuk makanan, juga harus larut dalam air agar dapat membuat isi mikrokapsul
terlepas secara seragam pada saat
digunakan. Bahan pengisi atau bahan enkapsulasi yang dapat digunakan
dalam proses enkapsulasi oleoresin dan
minyak atsiri dengan teknik pengeringan semprot antara lain dekstrin, CMC, gelatin, pati
termodifikasi, gum arab, gum xantan, dan gum akasia.
Keuntungan dari enkapsulasi dengan
pengeringan semprot adalah kemampuannya
untuk mengeringkan banyak senyawa yang labil terhadap panas. Meskipun
demikian, karena banyak bahan aktif
seperti flavor mengandung 20 – 30 macam komponen yang berbeda (kelompok alkohol, aldehida,
ester-ester dan keton) yang mempunyai titik didih berkisar antara 30 dan 180 oC, akan memungkinkan kehilangan
beberapa komponen aromatik bertitik
didih rendah selama proses pengeringan.
Disanping itu produk hasil spray dryer
biasanya mempunyai ukuran partikel yang
sangat kecil (umumnya kurang dari 100 mikron) sehingga mempunyai kelarutan yang tinggi, tetapi dapat menimbulkan masalah
jika dibuat untuk suatu campuran kering (karena mudah memisah). Masalah
terjadinya pemisahan tersebut dapat diatasi dan
fluiditasnya dapat ditingkatkan dengan cara agglomerasi, yaitu
partikel-pertikel enkapsulasi tersebut
diberi perlakuan uap untuk membuat mereka melekat satu sama lain sehingga menghasilkan partikel-pertikel yang
lebih besar.
Jika produk yang akan dienkapsulasi
bersifat sangat volatil atau termolabil, dapat
digunakan modifikasi proses spray drying yang disebut “cold dehydration
process”. Dalam proses ini, emulsi bahan
aktif (misalnya oleoresin atau minyak atsiri) dalam bahan pelapis disemprotkan ke dalam suatu cairan
yang sudah menguap seperti etanol atau
polyglycol pada suhu ruang atau lebih dingin. Mikrokapsul yang diperoleh
disaring dan dikeringkan dengan
pengeringan beku (freeze drying). Zilberboim etal. (1986) telah menggunakan proses ini untuk mengenkapsulasi
oleoresin paprika dan beberapa ester
dengan gum arab.
2.2 Penyimpanan Biji-Bijian
Serealia (Bahasa Inggris: cereal), dikenal juga sebagai sereal atau biji-bijian merupakan sekelompok tanaman yang ditanam untuk dipanen biji/bulirnya sebagai sumber karbohidrat/pati. (http://id.wikipedia.org/wiki/Serealia)
Beberapa tanaman penghasil bijian yang bukan padi-padian
juga sering disebut serealia semu (pseudocereals); mencakup buckwheat, bayam
biji (seed amaranth), dan kinoa. Beberapa serealia juga dikenal
sebagai pakan burung berkicau, seperti jewawut dan berbagai jenis milet. Walaupun menghasilkan pati,
tanaman seperti sagu, ketela pohon, atau kentang tidak digolongkan sebagai serealia karena bukan dipanen
bulir/bijinya.
Serealia dibudidayakan secara besar-besaran di seluruh dunia, melebihi semua jenis tanaman lain dan menjadi sumber energi bagi manusia dan ternak. Di sebagian negara berkembang, serealia seringkali merupakan satu-satunya
sumber karbohidrat. (http://id.wikipedia.org/wiki/Serealia)
Penyimpanan biji-bijian dapat berlangsung di tingkat kebun
atau di tingkat pabrik atau tempat lain. Di tingkat kebun, penyimpanan lebih
merupakan tahap penghentian sementara proses yang sedang berlangsung, yang
disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan untuk berlangsungnya
proses tersebut, misalnya karena gangguan cuaca atau malam hari.
Penyimpanan dapat pula dilakukan untuk menunggu proses
pengangkutan atau laku dijual. Di tingkat pabrik atau di tempat lain, sebagian
masyarakat menyebut penyimpanan sebagai penggudangan. Di tempat ini,
penyimpanan ditujukan untuk menunggu proses selanjutnya seperti proses
pengolahan atau pemasaran.
Di negara-negara sedang berkembang, kehilangan pasca panen
dapat terjadi selama proses penyimpanan. Hal ini banyak disebabkan oleh teknik
atau cara penyimpanan yang kurang baik, Penyebab kehilangan antara lain adalah
terjadinya kerusakan fisik, kimia, biologi dan mikrobiologi, maupun organoleptik.
Bahkan, dapat pula disebabkan oleh adanya gangguan keamanan.
Di Indonesia, sebagai negara berkembang dan beriklim tropis
basah, kendala utama adalah kelembaban relatif udara (RH) yang tinggi. Untuk
melakukan proses penyimpanan yang baik, diperlukan prasarana dan sarana yang
baik, dan biasanya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pada akhirnya, masalah
biaya merupakan kendala terbesar dalam membuat tempat penyimpanan yang baik.
Penyimpanan biji-bijian
1.Penyimpanan Tingkat Kebun
Penyimpanan di tingkat kebun dilakukan oleh petani. Tempat
penyimpanan di tingkat kebun ini pada umumnya sangat sederhana, bahkan relatif
sebagai tempat berteduh dari resiko kehujanan atau kelembaban udara yang
tinggi. Apabila di kebun atau sawah tidak tersedia bangunan untuk tempat
penyimpanan, maka yang dilakukan adalah menyimpan padi, jagung berkelobot,
polong kacang kedelai, atau polong kacang hijau di rumah atau gudang khusus di
rumahnya untuk dikeringkan pada keesokan harinya.
Penyimpanan di tingkat kebun atau di tempat tinggalnya
tersebut di atas, merupakan kegiatan yang berlangsung pada tahap pengeringan.
Lama penyimpanan di tingkat kebun relatif singkat, sampai proses pengeringan
dipandang cukup. Pada saat penyimpanan, biji-bijian dapat berbentuk ikatan padi
bertangkai bahkan berdaun, ikatan jagung berkelobot atau tanaman kedelai,
kacang hijau, kacang tanah (kedelai dipanen dengan seluruh bagian tanaman),
atau sudah mengalami proses perontokan, sehingga sudah berbentuk gabah, biji
jagung atau biji kedelai, biji kacang hijau atau kacang tanah berkulit.
Bentuk produk yang disimpan apakah masih dengan bagian lain
selain biji atau sudah tinggal bijinya, tergantung pada berapa lama produk
biji-bijian hasil panen tersebut akan disimpan, dan proses apa yang selanjutnya
akan dilakukan. Hal tersebut akan mempengaruhi efisiensi dan efektivitas
penyimpanan.
1.
Penyimpanan bentuk Biji bertangkai :
Penyimpanan bentuk biji bertangkai pada padi dan jagung
berkelobot menunjukkan :
- sifat
penyimpanan sementara, karena akan dikeringkan lebih lanjut akan digunakan
sebagai bibit
- akan
digunakan sebagai sediaan pangan dalam jangka waktu lama
- efisiensi
biaya (tidak dilakukan perontokan, tidak memerlukan kantong atau karung)
2. Penyimpanan dalam bentuk biji (gabah,
jagung, kedelai, kacang hijau, kacang
tanah :
- dilakukan
setelah pengeringan selesai
- memerlukan
wadah (kantong/karung)
- untuk
disimpan dalam jangka waktu yang relatif lebih lama
- pembeli
(pedagang) lebih menghendaki pembelian dalam bentuk biji
- jumlah
biji-bijian yang disimpan dapat dalam jumlah/volume yang lebih besar
Penyimpanan biji-bijian berkadar air relatif rendah (12 – 16
%) yang dilakukan pada suhu kamar, akan sangat membantu mengurangi resiko
kerusakan kimia/biokimia dan mikrobiologis. Eliminasi kerusakan tersebut akan
lebih dibantu apabila ruang penyimpanan memiliki lantai kering (tidak lembab,
biasanya lantai beton atau semen, atau bahan yang disimpan tidak kontak
langsung dengan lantai), terdapat ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara,
dan berdinding (tembok, bilik bambu/kayu, seng).
2.Penyimpanan Industri
Persyaratan penyimpanan biji-bijian, yaitu :
- bentuk
dan ukuran bangunan
- bahan
yang digunakan
- peralatan
dan mesin pengendali proses penyimpanan
Bentuk dan ukuran ruang penyimpanan akan menentukan
kesesuaian baik jumlah maupun jenis biji-bijian yang akan disimpan.
2.3 Penyimpanan Umbi-Umbian
Peranan komoditi umbi-umbian (ubikayu dan ubijalar) pada
umumnya sebagai sumber pangan karbohidrat, pakan ternak dan bahan baku industri
olahan pangan. Ke depan peranannya semakin penting dan strategis sejalan dengan
perkembangan teknologi pengolahan, antara lain yaitu : ubikayu sebagai bahan
baku industri kimia pembuatan glukosa, fruktosa, monosakarida dan lain-lainnya
serta bahan baku bioetanol, sedangkan untuk ubijalar dengan kandungan
betakaroten (pro- vitamin A) dan antosianin (antioksidan) yang tinggi, sehingga
ubijalar disebut sebagai pangan kesehatan.
Selain ubi kayu dan ubi jalar, sebenarnya Indonesia
mempunyai banyak umbi-umbian yang lain, seperti talas, uwi, ganyong, dan lain
sebagainya, tetapi data luas tanam maupun produksi tidak tersedia. Mengingat
banyaknya manfaat dari umbi-umbian ini dalam memperkuat cadangan pangan
masyarakat miskin, maka untuk masa mendatang ketersediaan data berbagai
komoditas umbi-umbian tersebut perlu disediakan, sebagai dasar untuk merumuskan
program pengembangan komoditas yang bersangkutan. Sebagai gambaran kandungan
zat gizi per 100 gram bahan. (Gsiantur, 2003)
2.4
Penyimpanan Buah-Buahan
Buah adalah salah satu jenis makanan yang memiliki kandungan
gizi, vitamin dan mineral yang pada umumnya sangat baik untuk dikonsumsi setiap
hari. Dibandingkan dengan suplemen obat-obatan kimia yang dijual di toko-toko,
buah jauh lebih aman tanpa efek samping yang berbahaya serta dari sisi harga
umumnya jauh lebih murah dibanding suplemen yang memiliki fungsi yang sama.
Cara Penyimpanan Buah-Buahan
Tidak semua jenis buah aman disimpan dalam lemari pendingin,
karena bisa rusak. Ada beberapa jenis
buah yang tidak dapat disimpan dalam lemari pendingin, contoh : mangga,
alpukat, pisang. Sebaiknya hindari pemakaian aluminium foil untuk menyimpan
buah/sayur yang mengandung acidic/asam, contoh irisan tomat, lemon, atau kol,
karena dapat mempengaruhi cita rasa.
Buah dan sayur mentah sesungguhnya dapat menjadi sumber
bakteri patogen yang berbahaya bagi manusia. Berbagai hasil penelitian
menunjukkan bahwa sejumlah bakteri patogen berhasil diisolasi dari sayur dan
buah mentah, seperti bakteri Campylobacter jejuni, Clostridium botulinum dan
Listeria monocytogenes dapat ditemukan di mushrooms, Escherichia coli O157:H7,
Salmonella dan Vibrio cholerae didapatkan di kol, sementara di selada ditemukan
bakteri Listeria monocytogenes, Salmonella, Staphylococcus, Yersinia
enterocolitica dan Vibrio cholerae, sedangkan di sayuran salad diketahui dapat
terkontaminasi oleh Staphylococcus, Listeria monocytogenes dan Yersinia
enterocolitica. Sedangkan Salmonella dan Yersinia enterocolitica dapat
mengkontaminasi buah-buahan seperti jeruk, semangka, strawberry dan tomat.
Selain itu sejumlah virus (Hepatitis A, Calicivirus, serta Norwalk) dan
protozoa (Cyclospora, Cryptosporodium dan Giardia) juga ditemukan di beberapa
jenis buah dan sayur. (Anonim, 1992)
Masuknya mikroba patogen pada buah dan sayur dapat terjadi
karena kontaminasi dari manusia, hewan, dan air yang terjadi selama pemanenan,
penanganan pasca panen, proses pengolahan sampai dengan persiapan terakhir
sebelum dikonsumsi. Penanganan yang tidak higienis akan menyebabkan terjadinya
kontaminasi silang selama proses pengolahan dan penyimpanan.
Bila kita hendak mengkonsumsi buah atau sayur dalam keadaan
mentah, hendaklah kita mencuci tangan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa
tangan kita benar-benar bersih. Pencucian buah dan sayur dapat menjadi salah
satu cara efektif untuk mengurangi jumlah mikroorganisme pada permukaan buah
dan sayur. Namun sebaiknya pencucian dilakukan dengan air hangat, mengingat
bahwa air sendiri dapat menjadi sumber kontaminasi mikroorganisme. (Anonim,
1992)
Selanjutnya, proses pendinginan, misalnya penyimpanan di
refrigerator dapat mempertahankan kesegaran buah dan sayur. Namun perlu
diketahui bahwa pendinginan tidak dapat menghilangkan atau membunuh
mikroorganisme patogen.
Penyimpanan di refrigerator hanya efektif untuk menghambat
aktivitas dan pertumbuhan mikroorganisme patogen, sehingga sebelum buah dan
sayur disimpan dalam refrigerator, proses pencucian sangat diperlukan. Setelah
dicuci, buah atau sayur dikeringkan dengan lap bersih dan dimasukkan ke
refrigerator. Kontaminasi silang dapat terjadi selama proses penyimpanan
dingin, terutama bila kita mencampur buah atau sayur yang masih segar dengan
yang sudah mulai rusak. Oleh karena itu pemisahan antara buah atau sayur yang
segar dengan yang mulai layu atau busuk dalam refrigerator hendaknya
diperhatikan. Buah yang mulai busuk jangan dibiarkan terlalu lama di
refrigerator. (Inneke Hantoro, 2006)
Pengemasan Buah-Buahan
Untuk
pengemasan dapat dilakukan dengan berbagai cara, untuk yang pertama buah dan
sayuran dikemas dalam plastik yang memiliki daya lekat yang kuat, lentur dan
tidak mudah sobek sehingga menjadikan buah dan sayuran tetap segar, tahan lama,
tidak kering dan melindungi serta menjaga tetap bersih. Misalnya pada bunga
kol, kobis, brokoli, luttuce dan lain sebagainya.
Cara yang
kedua buah dan sayuran dimasukkan ke dalam plastik polyetilen yang diberi
lobang-lobang yang memungkinkan terjadinya sirkulasi udara. Cara yang ketiga
adalah tidak dilakukannya pengemasan, tetapi buah dan sayuran diletakkan pada
lemari pendingin yang terbuka yang kadang-kadang disemprot dengan butir-butir
air yang halus untuk mengurangi penguapan, seperti sayur-sayuran daun, apel,
jeruk, anggur dan lain. (Sukardi, 1992).
Kerusakan
Buah-Buahan
Kehilangan mutu dan kerusakan pangan disebabkan oleh
faktor-faktor sebagai berikut:
- pertumbuhan
mikroba yang menggunakan pangan sebagai substrat untuk memproduksi toksin
didalam pangan
- katabolisme
dan pelayuan (senescence) yaitu proses pemecahan dan pematangan yang
dikatalisis enzim indigenus
- reaksi
kimia antar komponen pangan dan/atau bahan-bahan lainnya dalam lingkungan
penyimpanan
- kerusakan
fisik oleh faktor lingkungan (kondisi proses maupun penyimpanan)
- Kontaminasi
serangga, parasit dan tikus.
B.PENYIMPANAN PRODUK PANGAN
2.5.Penyimpanan Makanan Kering
Makanan kering adalah maknan yang
mengandung aw sangat rendah dan mudah masuk air serta makanan yang mudah layu
ataupun lembek jika terkena udara yang sangat lembab,oleh sebab itu makanan kering
sangat dibutuhkan ekstra dalam pengemasan supaya tahan lama dan tidak mudah
rusak oleh air udara dan mikroorganisme,tetapi makanan kering mempunyai
keunggulan yang sangat bagus dalam proses lama penyimpanan karena aw nya yang
sanagt rendah maka pertumbuhan mikroorganisme sangatlah susah karena tidak
sesui dengan pertumbuhan hidupnya.
Makana
kering sangatlah bermacam-macam seperti roti kue kerupuk dan lain-lain.kita
ambil contoh roti biscuit mariae.
Biskuit adalah produk makanan kecil yang
renyah yang dibuat dengan cara dipanggang. Biskuit merupakan kue kering yang
tipis, renyah, dan keras yang dibuat tanpa peragian dengan kandungan air yang
rendah kurang dari 5 %. Biskuit juga merupakan makanan kering yang tergolong
makanan panggang atau kue kering.
Biasanya formula biskuit diperkaya dengan bahan-bahan seperti lemak,
gula, garam, serta bahan pengembang. (Anonymous, 1996)
Ciri-Ciri
Biskuit
Ciri-ciri dari biskuit diantaranya,
·
Renyah
·
kering,
·
bentuk umumnya kecil,
·
tipis dan rata.
Biskuit Yang
Baik
Produk biskuit yang beredar di
pasaran sangat banyak jenisnya. Untuk memilih yang baik, jangan hanya
berpedoman pada rasanya. Jangan pula hanya karena iklannya gencar.
Survei Asosiasi Restoran Nasional di
Amerika Serikat menunjukkan bahwa konsumen sangat ingin membeli makanan sehat.
Sayangnya, pilihan makanan mereka tetap tidak sehat, misalnya cenderung membeli
makanan yang porsinya besar dan mengonsumsi makanan sekadar untuk kenikmatan.
Rasa, aroma, dan tekstur masih menjadi pertimbangan utama dalam memilih pangan
kemasan.
Faktor lain yang tidak boleh luput
dari perhatian adalah label kemasan. Pilih produk biskuit yang memiliki label
kemasan jelas, yaitu mengandung informasi tentang komposisi bahan, kandungan
gizi (nutrition fact), kode produksi, nomor registrasi, nama dan alamat
produsen, serta waktu kedaluwarsa.
Bila ingin menurunkan berat badan,
beli biskuit yang memiliki kandungan lemak rendah. Bila menderita diabetes,
jangan memilih biskuit yang mengandung gula tinggi. Bagi penderita hipertensi,
hindari jenis biskuit yang asin akibat kadar garam tinggi.
Untuk anak-anak, sebaiknya
dipilihkan produk biskuit yang diperkaya vitamin dan mineral, tetapi rendah
lemak. Untuk orang tua, sediakan produk biskuit yang rendah lemak dan gula,
tetapi kaya akan vitamin dan mineral yang dibutuhkan, seperti kalsium yang
berfungsi untuk memperkuat tulang. Pilihlah produk biskuit yang mengandung asam
lemak trans rendah atau tidak sama sekali.
Sebaiknya batasi jumlah persediaan
biskuit di atas meja. Hal tersebut akan mencegah konsumsi berlebihan, terutama
di kala santai. Kebiasaan nonton televisi atau bersantai sambil ngemil juga
harus dikurangi. Jadikan biskuit sebagai sumber energi alternatif, hanya
dikonsumsi ketika sibuk melakukan kegiatan yang memerlukan energi sangat
banyak, sampai tidak punya waktu untuk makan berat.
Biskuit biasanya mempunyai RH sekitar 3%. Dengan begitu,
biskuit cenderung bersifat kering. Apabila ditempatkan pada tempat terbuka yang
mempunyai kelembaban sedang/ tinggi, maka bisa dipastikan biskuit tersebut akan
mlempem (agak basah). Biasanya, orang meletakkan biskuit pada tempat tertutup
(toples) supaya awet.
Berikut ini adalah beberapa cara alternatif supaya biskuit
bertahan lama:
1. Simpan
pada ruangan yang mempunyai harga RH rendah
Biasanya
RH biskuit sekitar 3% Usahakan RH ruangan tidak melebihi RH biskuit karena
apabila disimpan pada RH lebih dari 3%, maka biskuit akan melempem.
2. Menambah
gas nitrogen pada tempat penyimpanan
Apabila
gas nitrogen ditambah dan oksigen dikurangi, maka reaksi oksidasi sulit berlangsung. Dengan begitu, biskuit
akan awet.
3. Taruh
biskuit pada tempat yang tertutup rapat (toples)
Dengan cara ini dapat mencegah masuknya mikroba perusak.
Proses pengalengan yang ditujukan untuk pengawetan jangka panjang, dilakukan
dengan melibatkan proses pengeluaran udara, pengemasan, pengaturan pH dan
penggunaan suhu tinggi (sterilisasi). Juga penting diperhatikan penggunaan \
wadah (container) dan kemasan yang dapat melindungi produk dari mikroorganisme
untuk menghindari terjadinya rekontaminasi selama penyimpanan.
III. METODOLOGI
A. Waktu
dan Tempat Pelaksanaan
Pelaksanaan praktikum teknologi
pengemasan dan penyimpanan dilaksanakan pada tanggal 8 Januari 2012, jam 09:00 -
Selesai di Laboratorium teknologi pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Haluoleo.
B. Alat
dan Bahan
a.
Alat
Adapun alat dalam praktikum
teknologi pengemasan dan penyimpanan adalah :
-
Plastic kemas
-
Aluminium foil
-
Seller dan
-
Timbangan analitik
b.
Bahan
Bahan yang dipakai dalam pengemasan
adalah :
-
1
kg kripik ubi yang dibagi dua rasa yaitu rasa manis dan rasa padas manis.
C. Prosedur
Kerja
·
Gunting
aluminium foil sesui dengan ukuran berat produk yang dikemas
·
Lipat
aluminium foil sehingga membentuk kemasan
·
Masukan aluminium foil ke seller dan perhatikan
kelurusan kemasannya agar tidak bengkok kemasannya
·
Kemudian
setelah berbentuk kemasan masukan produk yang akan dikemas
·
Setelah
itu kembali aluminium foil dimasukan ke seller untuk menutup bagian atas
kemasan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengemasan merupakan kegiatan pengepakan,pewadahan yang
didesain berfungsi untuk melindungi produk agar tidak terkontaminasi sehingga
membuat produk tetap terjaga higienisnya dan tidak mudah rusak, pengemasan juga
berfungsi untuk menarik minat konsumen dalam pemasaran produk produk pangan
atau produk lainnya.
Bahan – bahan kemasan yang biasa dipakai dipasaran ada lima
jenis yaitu kemasan plastik,kemasan logam, kemasan kayu, kemasan kertas dan
kemasan gelas dan kaca, untuk produk pangan biasanya menggunakan kemasan primer
yang terbuat dari plastik atau aluminium foil, sedangkan kemasan sekundernya
biasa menggunakan kemsan kertas kertas contohnya dus. Untuk kemasan kayu biasa
dipakai di penjualan atau pemasaran yang menggunakan jasa antar pulau atau
produk harus diantar ke tempat jauh itu harus menggunakan kemasan kayu.
Berdasarkan frekuensi pemakaian
kemasan dibagi atas
Kemasan
sekali pakai yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah satu kali pakai misal
plastik bungkus es, bungkus permen dari kertas dan lain lain.
Kemasan
yang dapat dipakai berkali-kali seperti beberapa jenis botol minuman,botol
kecap, wadah ini umumnya tidak dibuang oleh konsumen akan tetapi dikembalikan
lagi pada agen penjual untuk kmudian dimanfaatkanulang oleh pabrik.
Dan
yang terakhir kemasan yang tidak dibuang atau dikembalikan oleh konsumen
biasanya wadah-wadah tersebut digunakan sebagai kepentingan lain dirumah
konsumen seperti jenis botol aqua yang digunakan konsumen untuk wadah air
minum.
Kegiatan
praktek yang dilaksanakan pada tanggal 8 januari 2013 di lab.pengolahan
teknologi pangan, yaitu membuat kemasan kripik yang terdiri dari dua rasa yaitu
manis dan pedas, menggunakan alat yang disebut seller . ternyata dari praktikum
yang kami laksanakan membuat suatu desain kemasan itu cukup mudah yaitu cukup dengan
menggunting aluminium foil kemudian memanaskannya di seller untuk membentuk
kemasan, kemudian masukan produk yang akan dikemas dan kemudian dipanaskan lagi
diseller agar kemasan tertutup rapat, kemasan yang kami buat adalah kemasan
dengan berat 35 g, hasilnya cukup menarik dan dapat dilihat pada gambar berikut
ini.

Seperti yang kita lihat bersama desain
kemasan pada gambar ini adalah hasil dari praktikum teknologi pengemasan yang
kelompok III lakukan.
V. PENUTUP
A.
Kesimpulan
·
Kemasan
adalah pewadahan,pembungkusan, atau pengepakan, yang memegang peranan penting
dalam pengawetan makanan atau produk pangan.
·
Fungsi
kemasan selain berperan penting dalam pengawetan produk pangan yaitu sebagai
sarana komonikasi dan daya tarik konsumen untuk membeli produk pangan.
·
Sebelum
mendesain kemasan perlu diperhatikan dulu berapa berat produk yang akan
dikemas, kemudian baru didesain kemasan nya.
B.
Saran
1.
agar jadwal praktikum dan pengamatan
dapat diatur dengan baik lagi, sehingga praktikum dapat berjalan dengan baik
dan memberikan hasil praktikum yang memuaskan
2.
sarana dan prasarana dalam
laboratorium supaya dilengkapi lagi seperti kursi dan alat-alat lain sehingga
praktikum dapat berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA
Buckle,
K.A; dkk. 1987. Ilmu Pangan. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
Kartasapoetra,
A.G. 1989. Teknologi Penanganan Pasca Panen . Jakarta: Penerbit Bina
Aksara.
Kartika,
Bambang. 1988. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. Yogyakarta : UGM.
SNI.
01.2973.1992. Mutu dan cara uji biskuit. Badan Standarisasi Nasional.
Syarief,
Rizal. 1991. Teknologi Penyimpanan Pangan . Jakarta: Penerbit ARCAN
Winarno,
F.G; Srikandi Fardiaz; Dedi Fardiaz. 1980. Pengantar
Teknologi Pangan
Winarno,
F.G. 1979. Fisiologi Lepas Panen . Jakarta: PT. Sastra Hudaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar